Sabtu, 15 Juni 2013

Apa Itu Infertilitas?



       Seperti halnya kita ketahui, salah satu tujuan utama sebuah pernikahan adalah untuk memiliki keturunan. Biasanya, pasangan yang telah siap menikah akan berusaha untuk segera menimang bayi. Lalu, apa jadinya jika sang istri tidak kunjung hamil setelah beberapa kali melakukan aktivitas seksual dengan suami dalam masa subur dan tanpa kontrasepsi? Inilah yang lazim disebut dengan gejala kemandulan. Dalam bahasa medis, hal ini dikenal dengan infertilitas.
       Sejatinya, apa itu infertilitas? Infertilitas atau kemandulan adalah kegagalan yang dialami pasangan untuk mencapai kehamilan setelah satu tahun mereka berhubungan seksual dengan teratur dan tanpa kontrasepsi. Jika seorang wanita mampu hamil dan kemudian melahirkan bayi hidup, maka ia disebut fertil atau subur, begitu pula pria yang mampu menghamilinya.
      Sebaliknya, jika wanita dan pria tersebut tidak kunjung mendapatkan keturunan pasca hubungan seksual yang sehat dan teratur, salah satu dari mereka atau keduanya bisa disebut infertil atau tidak subur. Lalu, bagaimana dengan wanita yang bisa hamil tetapi mengalami keguguran yang berulang-ulang? Dapat juga di katakan infertil, namun tergantung pada penyebab keguguran itu sendiri.
       Infertil primer adalah jika wanita belum pernah hamil dan tidak mencapai kehamilan dalam waktu 12 bulan hubungan suami istri. Disebut infertilitas sekunder ketika wanita pernah hamil, namun tidak terjadi kehamilan lagi meski melakukan senggama secara teratur tanpa kontrasepsi.
       Sebagian besar masyarakat mengenal dengan baik apa itu infertilitas dan menganggapnya sebagai suatu aib atau musibah. Berdasarkan penelitian, di indonesia setidaknya ada 12% atau sekitar 3 juta pasangan yang berdomisili dikota maupun di desa, mengalami infertilitas, atau tidak kunjung mendapat kehamilan hingga tahun kedua usia pernikahan. Yang disayangkan adalah kita masih saja menjumpai sebagian orangtua yang masih menyalahkan perempuan sebagai penyebab ketidakmampuan pasangan memiliki keturunan. Padahal, infertilitas tidak hanya terjadi pada wanita, tetapi juga pria. Perlu diketahui bahwa terganggunya sistem reproduksi pria juga dapat menunda terjadinya kehamilan. Sebuah penelitian tentang masalah kesuburan, menyatakan bahwa infertilitas yang terjadi adalah 40% akibat laki-laki, 40% akibat perempuan, dan sekitat 30% akibat keduanya.
         Ilmu kedokteran saat ini baru sukses menolong separuh dari jumlah pasangan infertil guna memperoleh keturunan yang diidam-idamkan. Berarti, separuhnya lagi yang belum berhasil terpaksa menempuh hidup tanpa anak, poligami, bercerai, atau mengadopsi anak. Kenyataan ini membuat sebagian besar pasangan, terutama istri, merasa dihantui oleh ketakutan tidak berhasil memiliki keturunan. Mereka gelisah dan stres, terutama karena pandangan miring masyarakat tentang wanita atau pria yang mandul. Infertilitas menjadi mimpi buruk bagi pasangan yang sangat menginginkan kehadiran bayi dalam hidup mereka.
        Bagi remaja masa kini, mengetahui apa itu infertilitas, jenis, dan penyebabnya sangatlah penting. Kemandulan pun bisa dicegah sejak dini, terutama bagi para remaja hendaknya rutin memeriksakan kesehatan reproduksi mereka, terutama jika ada tanda-tanda atau gejala yang tidak wajar pada organ reproduksi atau hormon-hormon yang menunjang. Sebaiknya, pasangan melakukan pemeriksaan sebelum pernikahan sehingga dapat mengantisipasi terjadinya masalah kesuburan dan mengusahakan kehamilan.
Penanganan infertilitas adalah masalah medis yang cukup kompleks dan melibatkan beberapa disiplin ilmu kedokteran. Jadi, pasangan yang dianggap infertil perlu melakukan konsultasi dan pemeriksaan yang juga kompleks. Pemeriksaan untuk mengetahui faktor penyebab infertilitas tersebut mutlak dilakukan pada suami dan istri. Masih sering kita jumpai suami yang enggan bahkan tidak mau diperiksa, sikap seperti inilah yang tidak dapat dibenarkan. Padahal, pemeriksaan terhadap suami lebih mudah dilaksanakan dibanding pemerikasaan terhadap istri. Pemeriksaan kesuburan istri biasanya memakan waktu dan juga biaya yang relatif besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar